KENDARI – KENDARIPOS.COM || Konsorsium Aktivis Mahasiswa Pemuda dan Ormas (KOMPAS Sultra) kembali menggelar aksi unjuk rasa Jilid II di depan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara. Aksi ini menyoroti seriusnya dugaan korupsi dalam proyek penguatan tebing Sungai Potoro di Kabupaten Konawe Selatan, yang disinyalir menjadi ajang permainan anggaran oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
KOMPAS Sultra secara tegas mengadukan Kepala Dinas BPBD Konawe Selatan berinisial (I.P)serta sejumlah pihak terkait lainnya, atas dugaan keterlibatan dalam penyimpangan proyek yang bersumber dari anggaran miliaran rupiah.
Selain kualitas pengerjaan yang diduga asal-asalan dan tidak sesuai standar teknis, dan juga muncul dugaan keterlibatan oknum aparat penegak hukum (APH) dalam proyek ini baik secara langsung maupun tidak langsung melalui kedekatan personal dengan pihak pelaksana proyek.
Investigasi lapangan yang dilakukan KOMPAS Sultra mengungkap sejumlah kejanggalan, seperti mutu bangunan yang memprihatinkan, volume pekerjaan yang diduga tidak sesuai kontrak, serta lemahnya pengawasan dari pihak berwenang. Proyek ini diduga kuat hanya menjadi kendaraan untuk memperkaya segelintir pihak, bukan sebagai solusi mitigasi bencana atau penguatan infrastruktur publik.
Lebih dari itu, beredar informasi bahwa proyek ini diduga menjadi bentuk “imbalan tidak resmi” kepada oknum APH, sebuah dugaan yang bila benar terbukti, sangat mencoreng marwah institusi hukum dan mempermalukan semangat pemberantasan korupsi di daerah ini.
Mantan Kepala BPBD Konsel, Asrudin, pada saat dikonfirmasi hanya memberikan jawaban normatif dan enggan menanggapi dugaan gratifikasi yang mencuat. Sikap bungkam ini justru memperkuat dugaan bahwa ada yang disembunyikan dari publik.
Atas dasar itu, KOMPAS Sultra menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Mendesak Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara untuk segera memanggil dan memeriksa Kepala Dinas BPBD Konsel (I.P.) serta pihak lainnya yang terlibat, guna mengungkap fakta dan dugaan praktik korupsi dalam proyek penguatan tebing Sungai Potoro.
2. Menyoroti buruknya kualitas proyek yang patut diduga dikerjakan secara tidak profesional dan tidak sesuai spesifikasi teknis, serta lemahnya pengawasan.
3. Mengecam keras dugaan keterlibatan oknum aparat penegak hukum dalam proyek ini baik langsung maupun melalui hubungan personal karena mencoreng integritas lembaga hukum yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam pemberantasan korupsi.
4. Menolak segala bentuk pembelaan normatif dan pembiaran atas proyek bermasalah ini. Ketiadaan penjelasan yang transparan dari pejabat terkait hanya menambah kuat kecurigaan publik.
5. Menuntut proses hukum yang tegas, transparan, dan akuntabel. Penegakan hukum tidak boleh tebang pilih. Siapa pun yang terlibat harus diproses tanpa pandang bulu.
KOMPAS Sultra menegaskan bahwa uang rakyat bukan alat transaksi dan pembangunan bukan tempat praktik gratifikasi. Hukum harus berdiri tegak untuk keadilan, bukan tunduk pada kekuasaan.
Sementara itu, Kasi Penkum Kejati Sultra, Ruslin, menyambut baik laporan dari KOMPAS Sultra dan menyatakan akan menindaklanjuti informasi terkait indikasi penyimpangan dalam proyek penguatan tebing tersebut. Ruslin juga mengaku terkejut mendengar adanya dugaan keterlibatan oknum dari institusi kejaksaan dan menyarankan agar KOMPAS Sultra segera melengkapi laporan resminya untuk ditindaklanjuti secara prosedural.
Terlebih lagi, informasi bahwa Kepala BPBD Konsel saat ini disebut-sebut sebagai calon kuat Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Konawe Selatan, menjadi perhatian khusus KOMPAS Sultra. Kami mendesak Bupati Konawe Selatan agar tidak meloloskan pejabat yang terindikasi bermasalah dalam proses seleksi Sekda. Ini penting agar aparatur sipil negara di daerah tidak terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan yang melukai semangat reformasi birokrasi,” tegas Andri Togala menutup pernyataan resminya kepada awak media
Hingga berita ini diterbitkan berkali – kali , Kepala Dinas BPBD Konsel IP, belum memberikan tanggapan. Kendati demikian, media ini tetap memberikan ruang untuk hak jawabnya@Red











